Produksi Padi 2017 Mencapai 150.000 Ton Tobasa Terbaik II Sumut

Produksi Padi 2017 Mencapai 150.000 Ton Tobasa Terbaik II Sumut

Komoditi padi masih menjadi sektor unggulan dari Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Tahun 2017, terjadi peningkatan produksi padi dengan capaian 150.000 ton gabah. Kondisi ini mengangkat Kabupaten Tobasa pada posisi terbaik kedua segi produktivitas di Sumatera Utara (Sumut) setelah Kisaran.

“Untuk Sumut, kita meraik terbaik kedua segi produktivitas padi tahun 2017 dengan angka produksi diatas 150.000 ton gabah, atau sekitar 95.000 ton beras,” ujar Kadis Pertanian Perikanan dan Peternakan Tobasa ketika dikonfirmasi melalui sekretarisnya Sahat Manullang disela-sela perayaan HUT Tobasa ke-19 tahun 2018 yang dipusatkan di Lapangan Sisingamangaraja, Balige, Kamis (8/3).

Produksi panen yang memuaskan itu menjelaskan bahwa Tobasa surplus beras. Ditaksir,  dengan jumlah penduduk Tobasa saat ini, kebutuhan beras pertahun hanya kisaran 25.000 Ton.

“Jadi kita kita surplus beras di angka 70.000 Ton pertahun,” jelasnya.

Dipaparkan, capaian tersebut berada pada posisi luas taman kisaran 24.000 Ha dengan rata-rata intensitas pertanaman 1 kali setahun atau IP1. Diyakini, angka tersebut dapat melonjak di tahun ini dengan IP2. Kemudian dengan bantuan alat-alat mesin pertanian (alsintan), bibit subsidi, pupuk subsidi, pembenahan irigasi dan jalan usaha pertanian, pembukaan lahan baru, sosialisasi pertanian, serta pendampingan.

Meski produktivitas padi didaerah itu tergoong baik, yakni pada rata-rata 6,2 ton/ha, lebih tinggi dari rata-rata nasional pada angka 5,3 ton/ha, namun masih terdapat beberapa kendala seperti ketersediaan air, pola perilaku petani, dan SDM petani. Disamping itu, hal yang paling miris adalah ketidakmampuan petani lokal untuk menyiapkan lumbungpadi pribadi. Imbasnya tanpa disadari, petani rugi. Kerugian dimaksud terjadi saat musim panen raya didaerah itu, yakni pada bulan Mei, Juni, Juli.

“Ketika panen raya di Tobasa, biasanya harga gabah turun. Kemudian harga akan naik pada bulan Oktober dan November. Perbedaan harga bisa mencapai Rp 1.000 per kg. Begitu panen, pada umumnya petani kita langsung menjual keseluruhan hasil panen. Bisa kita bayangkan, jika 150.000 tob dikali Rp 1.000. Maka ada miliaran rupiah yang hilang dari petani setiap tahunnya,” ungkapnya.

Berbagai kendala itu tentunya bukan hal mudah untuk diatasi secara maksimal.

“Untuk itulah hingga saat ini persoalan tersebut masih terus menjadi perhatian Dinas Pertanian Tobasa dengan melakukan berbagai upaya mendorong keberhasilan sektor pertanian didaerah ini,” tandasnya. (MC Tobasa tob/rik/Noor)