Di PRSU ke-43 Pemkab. Toba Samosir Tampilkan Seni TOR-TOR

Beranda / Sosial Budaya / Di PRSU ke-43 Pemkab. Toba Samosir Tampilkan Seni TOR-TOR
Di PRSU ke-43 Pemkab. Toba Samosir Tampilkan Seni TOR-TOR

Medan, Untuk memeriahkan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-43 Pemerintah Kabupaten Toba Samosir menggelar acara malam kesenian, kamis (3/4), di Open Stage PRSU Tapian Daya Medan. Acara malam kesenian ini menghadirkan Tor-tor Mossak (Tarian Silat Tradisional Batak-red) yang sudah hampir punah.

Dalam Pagelaran itu, yang paling memukau perhatian para pengunjung adalah  kisah pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII “Satti Raja” (raja yang sakti dan berwibawa yang menjadi panutan rakyatnya-red). Tarian (Tor-tor Batak) ritual ini merupakan mekanisme pemilihan raja yang diiringi gondang sabangunan (dimainkan di luar rumah atau di halaman rumah-red), ritual “Raja Parhata (”Raja Bicara” tetapi bukan raja yang banyak bicara), Pamitta Gondang (ketua kelompok/juru bicara-red), Datu Bolon (orang yang sakti), Sibaso Bolon (dukun/bidan sakti) dan Siloan Nabolon (Tuhan yang Maha Esa-red).

Tarian yang digelar mempersempahkan 10 jenis Gondang dibarengi tortor (tarian Batak diiringi alat musik khas Batak-red). Diawali dengan gondang Lae-Lae Sahala (gendang jalan masuk-red) yang mengiringi para penari memasuki pentas. Secara berturut-turut ditampilkan gondang Mula-Mula dan gondang Somba, gondang Liat-Liat, dan gondang Simonang-monang.

Kemudian, saat calon raja ditampilkan, dipersembahkan gondang Lae-Lae Debata yang dilanjutkan dengan gondang Sahala pertanda raja sudah ditahbiskan. Selanjutnya pemeran tokoh Raja Sisingamangaraja XII “manortor” diiringi  gondang Malim, gondang Mulajadi, gondang Saneang Naga Laut dan diakhiri dengan gondang Sitio-tio Hasahatan.

Sebelumnya di awal pementasan, tampil Polisi Cilik yang berasal anak-anak sekolah dasar Bona Pasogit mempersembahkan keterampilannya serta tortor polisi cilik yang dibina Polres Tobasa. Anak-anak sekolah ini berhasil mengkreasikan tugas-tugas kepolisian melalui tortor dan gerakan-gerakan yang mampu menghibur para penonton.

Kemudian, ditampilkan Tortor Monsak, yakni gerakan Monsak Batak (beladiri khas Batak-red) yang dikreasikan dalam bentuk tarian untuk menyambut para raja-raja, dan untuk sekarang ini sering ditampilkan sebagai penyambutan undangan pada pesta adat.

Selepas itu, Sanggar Lusido, pimpinan Rismon RM Sirait, menampilkan, sendratari Pesta Adat Pernikahan Batak Toba, yang menggambarkan pelaksanaan prosesi pernikahan adat Batak Toba pada dahulu kala. Tarian ini menggambarkan, prosesi Pesta Adat, dimana pihak mempelai pria dan wanita sudah menyepakati pesta pernikahan melalui suatu pesta besar.

Bupati Toba Samosir Pandapotan Kasmin Simanjuntak dalam sambutannya mengimbau, lewat pertunjukan seni budaya yang dipagelarkan agar generasi masyarakat Batak berusaha menggali, mengembangkan, dan melestarikan nilai luhur budaya dan dapat memberikan waktu, pikiran, tenaga untuk mengenali lebih dekat akan nilai-nilai budaya.

Toba Samosir memiliki ragam karya seni budaya yang diwariskan para leluhur, sebagai suatu kebanggaan masyaraka. Karena itu, diperlukan dukungan seluruh pihak sehingga dapat dilestarikan dan diwariskan, mengingat budaya tersebut telah menggambarkan falsafah hidup masyarakat Tobasa dalam bertindak, bertutur, dan berperilaku. “Kekayaan nilai budaya ini menjadi suatu kebanggan tersendiri buat masyarakat, kata bupati.

Lebih lanjut disampaikan Pandapotan Kasmin Simanjuntak bahwa sesuai surat Kemenparekraf nomor HM.304/3/8/WPEK/2013, Pemerintah Kabupaten Toba Samosir ditunjuk sebagai tuan rumah pelaksanaan FDT 2014. Sekaitan dengan hal itu, Bupati Toba Samosir mengharapkan dukungan serta partisipasi semua pihak agar acara tersebut berjalan dengan baik dan lancar.

Secara terpisah, Ketua Yayasan Pekan Raya Sumatera Utara, Drs. H. Taufiq mengatakan, Malam Pesona Toba Samosir “bagus” karena menampilkan seni dan budaya daerah sendiri,

“Melalui even tahunan ini, kita berharap dapat mengangkat kembali budaya masyarakat dengan berbagai keanekaragaman adat dan budaya,” ujarnya.

Sementara menurut salah seorang pengunjung yang hadir, Grecya Manurung, mahasiswi Universitas Sumatera Utara, mengatakan   bahwa acara malam pesona Toba Ssamosir sangat bagus dan mampu memberikan pesan moral tentang kisah raja-raja Batak terdahulu, yang perlu digali dan dilestarikan.

Kepala Disbudpar Toba Samosir, Ultri Sonlahir Simangunsong, MT mengatakan, PRSU menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan budaya daerah serta karya lokal yang ada di Sumut, dan setiap kegiatan pihaknya terus mendukung dalam menyukseskan penyelenggaraan seni dan budaya. (mctobasa/sesmontb)